Anatomi Krisis Pangan Baru

Penguatan stok pangan domestik bukan opsi, tetapi harus dilaksanakan. Dampak sosial-ekonomi krisis pangan baru wajib dihindari karena biaya sosial politiknya sangat besar.

Peringatan beberapa lembaga internasional tentang krisis pangan baru karena pandemi Covid-19 bukan fiksi, kita perlu mewaspadai.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Pangan Dunia (WFP), Lembaga Riset Pangan Internasional (IFPRI), dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengingatkan terjadinya krisis pangan ini.

Krisis pangan ini tidak ditandai oleh lonjakan harga pangan secara signifikan karena dipicu anjloknya kinerja perekonomian. Resesi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 akan menyebabkan 500 juta orang di dunia jatuh miskin. Mereka tidak memiliki penghasilan memadai untuk membeli pangan pokok dan keperluan lain.

Tanda-tanda krisis pangan semakin terlihat sejak penerapan lockdown di beberapa negara. Di Indonesia dan negara berkembang lain, banyak penduduk tiba-tiba tidak dapat bekerja, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan harus tergantung pada bantuan pangan. Mereka amat rentan karena akses pangan terganggu.

Anatomi krisis

Berikut ini adalah anatomi krisis pangan, meliputi pemicu (drivers), proses transmisi, dan dampak sosial-ekonomi pada tiga kasus: yaitu krisis ekonomi Asia 1998, krisis pangan global 2008, dan krisis pangan baru akibat pandemi Covid-19.

Resesi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 akan menyebabkan 500 juta orang di dunia jatuh miskin.

Krisis ekonomi Asia 1998 adalah pemicu krisis pangan di beberapa negara Asia, khususnya yang bermasalah nilai tukar dan neraca pembayaran. Krisis pangan terjadi karena daya beli melemah, inflasi tinggi, dan akses pangan terganggu. Di Indonesia, nilai tukar rupiah memburuk dari Rp 2.450 per dollar AS menjadi Rp 16.650 per dollar AS. PHK dan pengangguran meluas, kemiskinan naik sampai 50 juta orang atau 24,2 persen dari total penduduk.

Laju inflasi melonjak dari 10,31 persen menjadi 82,4 persen, cadangan devisa menipis sampai 17,4 miliar dollar AS, utang luar negeri membengkak sampai 126,6 persen produk domestik bruto, dan pertumbuhan ekonomi anjlok dari 4,7 persen ke minus 13,7 persen.

Krisis diperparah kekeringan ekstrem El-Nino sehingga petani gagal panen dan harga pangan melonjak tinggi. Indonesia mencatat rekor baru impor beras 6 juta ton karena produksi domestik anjlok.

Setelah Presiden Soeharto berhenti, Presiden BJ Habibie, penggantinya, berusaha memulihkan krisis ekonomi. Pemerintah memberikan jaring pengaman sosial (JPS), mendirikan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), melaksanakan program rekapitalisasi hingga Rp 430 triliun, mengendalikan Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI), dan lain-lain.

Krisis pangan global 2008 dipicu kenaikan harga minyak global hingga 120 dollar AS per barel, baik karena kenaikan biaya transportasi dan logistik perdagangan maupun karena keterhubungan pasar pangan dengan pasar minyak bumi dalam bursa berjangka.

Krisis perbankan dan keuangan di AS juga terjadi, khususnya kredit perumahan, bubble pasar modal dan keuangan, hingga bangkrutnya perusahaan raksasa Lehman Brothers.

Harga pangan biji-bijian melonjak tajam, gandum naik 130 persen, kedelai naik 87 persen, beras 74 persen, dan jagung 30 persen. Harga produk turunannya juga naik tajam. Kerusuhan melanda Amerika Latin dan Afrika, seperti Haiti, Mesir, Pantai Gading, Senegal, dan Kamerun.

Asia juga dilanda protes harga pangan, seperti di India, Bangladesh, dan Filipina. Dampak krisis pangan di Indonesia tidak terlalu dahsyat karena musim sangat bersahabat. Produksi pangan cukup baik, cadangan beras di Bulog terjaga di atas 1,5 juta ton, dan harga eceran beras naik tidak lebih dari 10 persen.

Pada 2008 itu, laju inflasi Indonesia naik sampai 12,2 persen, nilai tukar rupiah Rp 12.650 per dollar AS, cadangan 50,2 miliar dollar AS, dan pertumbuhan ekonomi 6,1 persen.

Krisis dampak pandemi

Krisis pangan baru yang dipicu Covid-19 berbeda dengan dua krisis sebelumnya. Sekarang kondisi ekonomi pangan global relatif baik. Stok pangan cukup, panen lumayan, harga minyak bumi rendah, dan permintaan pangan rendah. Harga minyak di bawah 20 dollar AS per barel untuk WTI crude oil dan di bawah 30 dollar AS per barel untuk brent crude oil, suatu rekor harga terendah.

Negara eksportir minyak bumi (OPEC) bersepakat mengurangi produksi minyak demi menjaga harga keekonomiannya. Secara teori, hal di atas belum akan meningkatkan harga pangan dalam jangka pendek. Akan tetapi, ketika sistem transportasi dan logistik pangan terganggu karena lockdown, aliran komoditas pangan juga terganggu. Kelompok miskin tidak mampu bekerja atau hilang pekerjaan sehingga akses pangan turun drastis.

Krisis pangan baru yang dipicu Covid-19 berbeda dengan dua krisis sebelumnya.

Pandemi Covid-19 mengurangi curahan tenaga kerja, aset paling berharga dari kelompok miskin, sehingga penghasilan menurun signifikan.

Rencana kontingensi

Berikut usulan rencana kontingensi penanggulangan krisis pangan, termasuk jika hal terburuk—kenaikan harga tinggi dan angka kemiskinan tinggi—terjadi bersamaan.

Pertama, jika harga pangan naik kurang dari 10 persen dan kemiskinan naik kurang dari 5 persen, petani harus diberi jaminan pergi ke sawah dan pembelian harga produk yang layak untuk menjamin aliran produksi pangan dari hulu.

Dana desa dapat dimanfaatkan untuk padat karya guna menjaga ekonomi desa terus bergulir. Pelaksanaan program ketersediaan pasokan dan stabilitas harga harus masif. Operasi pasar Bulog lebih intensif di seluruh pelosok.

Kedua, jika harga pangan naik 10-20 persen dan kemiskinan naik 5-10 persen, petani harus diberi jaminan dan insentif harga memadai. Petani perlu akses marketplace untuk menjaga cash flow petani karena banyak yang net consumer beras.

Pemerintah memberi subsidi ongkos angkut armada pangan untuk menjamin sistem distribusi dan logistik serta tidak berlebihan dalam pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pergerakan pangan.

Ketiga, jika harga pangan di atas 30 persen dan kemiskinan naik di atas 10 persen, bantuan sosial harus dinaikkan setidaknya dua kali lipat dari anggaran sekarang Rp 110 triliun. Pengalaman melaksanakan program JPS, subsidi bunga kredit program, dan penyelamatan produksi pangan pada krisis ekonomi 1998 dapat dijadikan referensi berharga.

Penguatan stok pangan domestik bukan opsi, tetapi harus dilaksanakan. Dampak sosial-ekonomi krisis pangan baru wajib dihindari karena biaya sosial politiknya sangat besar.

Oleh Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, M.Sc. (Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Ekonom Senior Indef, dan Ketua Forum Masyarakat Statistik (FMS))

Sumber: http://echogreen.id/anatomi-krisis-pangan-baru/

Momentum Kemandirian Pangan

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan ketidakpastian baru yang berdampak ke pangan. Hal ini diikuti dengan wacana “de-globalisasi” yang makin mengemuka akibat negara-negara di dunia diduga akan menahan stok pangannya. Kalau ini terjadi, tak ada jalan lain kecuali tekad kemandirian pangan. Pertanyaannya adalah apakah pasokan pangan kita mencukupi? Bagaimana terobosan jangka pendek dan jangka menengah untuk mewujudkan kemandirian?

Isu Produksi dan Distribusi Pangan

Badan Ketahanan Pangan Kementan RI (2020) merilis bahwa suplai pangan hingga Agustus 2020 relatif aman, bahkan beras diperkirakan bisa surplus 7.4 juta ton. Begitu pula jagung, bawang merah, cabai, daging ayam dan telur. Namun, baru-baru ini Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa ternyata masih banyak provinsi yang defisit pangan (Kompas.com, 28 April 2020). Jadi, ternyata persoalannya bukan semata pada surplus produksi, melainkan pada belum meratanya distribusi.

Isu distribusi ini terdampak dari kebijakan pencegahan Covid-19 yang membatasi mobilitas, jam operasional pasar, jam kerja restoran, dan tutupnya kantor. Kendala distribusi pangan kini bisa berdampak pada kelebihan suplai di tingkat petani sehingga menyebabkan harga jatuh. Penurunan harga ini akan berdampak pada penurunan penghasilan mereka. BPS telah mengumumkan bahwa Nilai Tukar Petani turun dari 104,16 pada Januari 2020 menjadi 102,09 pada Maret 2020 (Kompas, 15 April 2020), artinya ada penurunan daya beli petani.

Penurunan penghasilan ini selanjutnya bisa berdampak pada terbatasnya modal usaha untuk musim tanam berikutnya bulan Agustus. Jadi, saat ini yang terjadi adalah ketidakpastian distribusi, sementara ketidakpastian produksi justru akan terjadi pada masa musim tanam berikutnya setelah Agustus.

Jangka Pendek: Perlindungan Petani

Ada empat terobosan jangka pendek untuk memecahkan masalah rantai pasok di atas. Pertama, menghadapi ketidakpastian distribusi diperlukan kebijakan logistik dan rantai pasok pangan dengan melibatkan sejumlah BUMN pangan, koperasi, dan swasta nasional. Hal ini penting agar distribusi pangan kembali normal dan petani kembali menikmati harga wajar. Konsumen pun menikmati produk pangan dengan harga terjangkau. Sistem logistik baru ini perlu inovasi berbasis teknologi 4.0, khususnya blockchain, untuk menjamin akurasi data dan koneksi hulu hilir secara efisien.

Kedua, memperluas akses petani, peternak dan nelayan pada jaringan pemasaran daring untuk memperpendek rantai pasok pangan dengan melibatkan koperasi dan Bumdes. IPB dan Astra bekerjasama memberdayakan 53 desa di Jawa Barat dan berhasil membuka akses petani pada pemasaran daring melalui sejumlah marketplace. Pemasaran daring merupakan solusi namun saat ini belum mampu menjangkau masyarakat menengah ke bawah yang terbiasa dengan pasar tradisional.

Ketiga, diperlukan stimulus ekonomi khusus untuk pertanian dan pedesaan sebagai kebijakan afirmatif perlindungan petani dan desa sebagai basis produksi pangan. Stimulus ini penting untuk memastikan pertanian tetap tumbuh dan mensejahterakan. Pertanian tetap menjadi tumpuan ekonomi desa karena desa berbasis pertanian di Indonesia masih 73,14%, dan desa pesisir 15,11%.

Salah satu stimulus adalah kebijakan relaksasi KUR secara holistik agar petani tetap tenang menghadapi musim tanam mendatang yang memerlukan suntikan modal lagi. Adanya alokasi dana sekitar Rp 70.1 Triliun untuk insentif perpajakan dan KUR dalam Perppu perlu dipastikan bahwa petani dan nelayan menjadi target kebijakan tersebut.

Keempat, skema perlindungan dan jaring pengaman sosial bagi kesejahteraan petani dan nelayan di masa pandemi Covid-19 sangat diperlukan. Jaminan kehidupan petani dan nelayan diperlukan agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sekaligus menekan laju kemiskinan di pedesaan yang saat ini kontribusinya masih 60%.

Jangka Menengah: Kemandirian Pangan

Empat terobosan di atas juga merupakan upaya menjaga suasana psikologis petani, peternak, dan nelayan bahwa pekerjaan mereka dihargai dan dilindungi. Semangat bekerja mereka harus kita apresiasi, apalagi di saat krisis pangan global ini mengancam.

Sembari menyelesaikan problem jangka pendek soal distribusi saat ini dan antisipasi produksi pangan pasca Agustus 2020 nanti, maka ancaman krisis pangan global tersebut harus menjadi momentum untuk kemandirian pangan. Ada lima agenda untuk kemandirian pangan ini.

Pertama, gerakan masyarakat untuk produksi skala rumah tangga bisa menjadi katup pengaman di kala krisis seperti pandemi Covid-19 ini. Dulu di kampung, banyak rumah tangga yang memiliki ayam, kolam ikan, atau tanaman hortikultura sebagai cadangan pangan. Karena itu pertanian pekarangan perkotaan harus digalakkan lagi. Gerakan sosial ini murah dan rendah karbon namun berdampak pada akses pangan.

Selain itu gerakan pangan lokal masa lalu untuk jaring pengaman sosial perlu direvitalisasi. Di Jawa ada istilah “beras jimpitan” yaitu setiap rumah tangga berbagi beras sebanyak satu gelas yang diletakkan di teras rumah dan lalu diambil oleh petugas ronda dan dikumpulkan di balai desa atau mushola untuk didistribusikan kepada yang kurang mampu.

Kedua, pada aspek teknologi, perlu terobosan produk subtitusi impor. Teknologi mie berbahan baku wortel, bayam, dan jagung kini mulai berkembang. Beras analog produk IPB berbahan baku sagu dan singkong juga makin populer. Yang diperlukan adalah perluasan skala produksi sekaligus edukasi konsumen untuk merespon diversifikasi pangan ini. Begitu pula aneka tanaman obat harus dikembangkan untuk mendukung kemandirian industri obat-obatan herbal sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk farmasi impor.

Ketiga, perlu penyempurnaan sistem data dan infomasi pertanian dan perikanan secara spasial, agar produksi pangan di desa dan kebutuhan di kota dapat diketahui secara akurat, dan distribusi pangan antar wilayah lebih mudah dijalankan. Ini harus diiringi akselerasi pola pertanian presisi berbasis teknologi 4.0, karena pertanian presisi yang terkoneksi secara spasial bisa menjadi basis data yang akurat. Dengan data akurat maka kebijakan pun akan lebih akurat.

Keempat, reforma agraria menjadi prasyarat bagi kemandirian pangan. Tentu tidak saja berupa distribusi lahan (land reform) yang meningkatkan rasio lahan per petani, tetapi juga perluasan akses (access reform) pada teknologi, modal, dan pasar bagi petani sehingga bisa lebih mensejahterakan.

Kelima, regenerasi petani perlu dipercepat dengan memperluas kesempatan menjadi petani milineal. Rata-rata usia petani Indonesia sekitar 47 tahun, dan 10 tahun lagi bisa terjadi krisis petani kalau tidak diantisipasi dari sekarang.

Tentu kemandiran pangan mensyaratkan pergeseran dominasi dari “rezim perdagangan” ke “rezim produksi” sehingga iklim ekonomi-politik ini kondusif bagi kita untuk terus berproduksi tanpa ada kekhawatiran akan membanjirnya produk impor. Apalagi dengan isu “de-globalisasi”, maka penguatan “rezim produksi” pangan adalah satu-satunya pilihan. Ingat, pangan adalah hidup matinya suatu bangsa, kata Soekarno 58 tahun lalu.

Oleh Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi (Rektor Institut Pertanian Bogor)

Sumber: http://echogreen.id/momentum-kemandirian-pangan/

Jurus Jitu Petani Muda Batu Menembus Pasar Kala Pandemi

Di halaman kebun anggrek DD Orchid Nursery di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Batu, Kamis (18/6/2020), beberapa anak muda sibuk mengemas anggrek berumur 5 bulan-1 tahun menggunakan kertas kiran bekas. Bibit yang terbungkus itu lalu dimasukkan dalam kardus sebelum dikirim ke konsumen.

Pada saat bersamaan, dua mobil minibus berpelat nomer Surabaya tiba. Rombongan calon pembeli yang didominasi perempuan menyusuri kebun. Mereka menanyakan jenis dan harga anggrek yang diminati.

Suasana seperti ini menjadi kebiasaan DD Orchid Nursery selama pandemi. Aktivitas pengiriman anggrek terus berjalan bahkan cenderung meningkat selama pandemi. Selain itu konsumen juga masih datang–tentunya sambil mengenakan masker.

Dedek Setia Santoso (42), pemilik DD Orchid Nursery, mengatakan, beberapa strategi sengaja ia terapkan untuk menembus pasar dalam situasi serba tidak pasti seperti sekarang. Strategi yang dimaksud, antara lain, memperbanyak rilis anakan anggrek, memperbaiki kemasan, dan memperluas jaringan pasar.

Dalam hal memperbanyak rilis anakan, ia mengandalkan jumlah silangan yang kemudian didaftarkan ke Royal Horticultural Society di Inggris. Dalam kondisi normal, biasanya Dedek mendaftarkan 2-3 hasil silangan. Namun, dalam sebulan terakhir ada 15 silangan yang ia daftarkan, sebagian besar jenis dendrobium.

Dedek mulai mendaftarkan anggrek silangan tahun 2016 sehingga tidak ada kesulitan saat dirinya harus melakuan langkah serupa terhadap persilangan-persilangan berikutnya. Tentu saja, ia menggunakan cara daring.

Adapun memperluas jaringan dilakukan dengan cara menghubungi lagi teman dan mahasiswa/pelajar yang pernah magang kerja di tempatnya. Mereka yang tengah libur sekolah/kuliah atau belum mendapatkan pekerjaan diajak berbisnis bersama dengan menjual anggrek melalui media daring.

“Kami buat grup Whatsapp jual beli online. Saya kirim anggrek, mreka tinggal jual dengan cara mem-posting di Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya. Mereka bisa dapat uang dari rumah. Sistemnya drop ship, kami yang mengirim,” tutur petani muda yang mengawali usaha budidaya anggrek di halaman rumah yang berukuran 1 meter x 0,5 meter dan modal Rp 25.000 itu.

Strategi yang diterapkan membawa hasil. Penjualannya naik signifikan selama pandemi. Hal ini diakui tidak terlepas dari kebijakan kerja di rumah. Banyak orang menghalau penat dengan menyibukkan diri bertaman di rumah.

Jika biasanya Dedek mengirim rata-rata 15 tanaman per hari, saat ini meningkat menjadi 45-50 tanaman per hari. Harga anggrek yang dijual bervariasi, mulai dari Rp 12.500 untuk satu bibit hingga yang berharga jutaan rupiah untuk anggrek dewasa.

Konsumennya berasal dari daerah-daerah di Tanah Air. Untuk menunjang produksi, Dedek merangkul 75 petani di Dadaprejo sebagai mitra.

“Tidak ada kesulitan untuk mengirim karena kami sudah bekerja sama dengan ekspedisi. Mereka menjemput bola dan memberi proritas kepada saya,” katanya.

Semangat hidup sehat

Berbeda dengan DD Orchid Nursery yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun, sejumlah anak muda di Kota Batu merintis bisnis hortikultura berbadan hukum (CV). Mengusung semangat hidup sehat, pekan lalu mereka meluncurkan produk sayur ramah lingkungan. Di antaranya, sawi daging, pakcoy, andewi/selada, kalian, dan sawi bungkuk. Sayur-sayur yang ditanam secara organik itu dijual dalam polybag seharga Rp 5.000 per buah.

Komisaris CV Batu Sehat Berdaya (BSB) Salma Safitri Rahayaan mengatakan, begitu kegiatan ini diluncurkan, pihaknya sudah mendapatkan 14 konsumen di Batu dan Malang dengan jumlah pesanan hampir 300 polybag. Sayur diantarkan ke konsumen menggunakan jasa kurir.

“Pemasaran kami sederhana, melalui grup WA dan jalur pribadi ke teman-teman,” katanya.

Konsumen yang menjadi sasaran adalah warga Batu dan Malang. Untuk konsumen di luar kota tidak dilayani dengan pertimbangan ongkos kirim yang mahal. Untuk pengiriman ke Malang saja, ongkos kirimnya 40 persen dari harga jual produk.

Pemasaran sayur mengadopsi sistem keanggotaan. Konsumen yang menjadi anggota dalam pembelian berikutnya bisa menukarkan polybag bekas dari pembelian sebelumnya dengan uang kembalian Rp 1.000 per polybag. Dengan demikian, mereka hanya membayar Rp 4.000 per polybag dalam pembelian selanjutnya. Cara ini dinilai ramah lingkungan.

Polybag hasil penukaran dari konsumen akan kami gunakan untuk menanam lagi, tinggal kami kasih tambahan tanah. Selain itu, setelah anggota banyak, nantinya pelanggan akan mendapatkan bonus pupuk sayur organik,” tuturnya.

BSB memiliki semangat mendorong agar warga Batu sehat dan berdaya secara ekonomi. Penggunaan polybag menjadi inovasi karena sajauh ini pangsa pasar sayur organik banyak, tapi belum ada yang menjual dengan bentuk seperti itu.

Penggunaan polybag membuat orang bisa mengonsumsi makanan dalam kondisi segar tanpa harus disimpan dalam lemari pendingin. Mereka juga fleksibel, bisa mengatur kapan hendak mengonsumsinya. “Tidak harus (dikonsumsi) hari ini. Jadi, ada sensasi makan sehat dan segar,” katanya.

Untuk menyediakan sayur ramah lingkungan, BSB bermitra dengan petani, sekolah, dan kelompok masyarakat yang bersedia menyisihan lahan untuk menanam sayur, termasuk mereka yang kini menjadi pengangguran karena Covid-19. BSB membeli sayur dari mitra sekaligus mengontrol peyiraman dan pemupukan guna menjamin agar apa yang dilakukan betul-betul alami, tanpa bahan kimia.

Cara seperti ini, menurut Salma tidak hanya menyediakan pangan sehat, tetapi juga menjadi terobosan kala pandemi. Saat banyak sektor dan pekerjaan tumbang oleh Covid-19, kegiatan bertani masih jaya. Bahkan, sebagian orang kini menjadikan aktivitas menanam di lahan sempit sebagai tren. “Orang bisa tidak beli baju, tidak rekreasi karena pandemi, tetapi mereka tetap butuh pangan. Ini bagian dari survive kami di tengah pandemi,” ujarnya.

Di sisi lain, BSB ingin mengembalikan Batu sebagai sentra sayur organik dan ramah lingkungan. Selama ini, pertanian yang dikembangkan petani lebih banyak menggunakan bahan kimia.

Akademisi sekaligus Direktur Utama Badan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya Malang Setyono Yudo Tyasmoro mengatakan, petani memang sempat turun semangatnya akibat pembatasan sosial berskala besar. Namun, saat ini mereka mulai beraktivitas dan tumbuh lagi.

Dalam situasi seperti sekarang, menurut Yudo, petani memang harus memutar otak. Kreativitas menjadi salah satu kunci keberhasilan. Misalnya, belum semua petani bisa berinovasi.

“Kalau cara-cara reguler terkena dampak Covid-19 cara lain diambil misalnya melalui penjualan dengan sistem online. Memperbanyak silangan untuk mereka yang berkecimpung di dunia anggrek,” ucap Yudo.

Dia menilai, kondisi pangan di Indonesia selama pandemi mencukupi. Bahkan, dampak pandemi membuat masyarakat banyak yang memanfaatkan sumber pangan lokal.

Oleh Defri Werdiono

Sumber: http://echogreen.id/jurus-jitu-petani-muda-batu-menembus-pasar-kala-pandemi/

M Khoirul Soleh Kawan Para Petani

Khoirul yang tinggal di Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini mengusahakan dua hektar kebun bibit di enam lokasi berbeda. Sebanyak 5.000 meter persegi adalah kebun miliknya. Sisanya milik petani lain yang menjadi mitra.

Di kebun-kebun itulah, Khoirul membudidayakan ratusan jenis bibit tanaman, mulai tanaman buah-buahan, seperti srikaya, apel, dan kelengkeng; tanaman hias; hingga tanaman herbal, seperti binahong, sambungnyowo, dan purwaceng.

Sejauh ini, ia telah bermitra dengan para petani di Kecamatan Salaman. Selanjutnya, ia akan bermitra dengan dua hingga tiga petani di Kecamatan Tempuran. Dalam kemitraan itu, Khoirul memberi modal kerja untuk bertani, terutama kepada warga yang menganggur atau memiliki pendapatan rendah.

Tidak berhenti di situ, ia juga mengajari teknik budidaya tanaman yang baik dan cara menjualnya secara daring untuk menghindari jerat tengkulak. Pengetahuan tidak hanya ia berikan kepada mitra, tetapi juga kepada siapa pun yang berminat. Caranya lewat pelatihan formal di rumahnya hingga obrolan langsung atau pun melalui telepon.

Kadang ia dipanggil ke beberapa daerah untuk memberikan pelatihan, termasuk melatih personel TNI dan pekerja di perkebunan durian di Pekanbaru. “Kadang saya mendapatkan honor besar dari ekspedisi, kadang saya jadi tenaga PPL (penyuluh pertanian lapangan) gratisan,” ujarnya sembari terkekeh.

Laki-laki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu tidak peduli aktivitasnya membagi ilmu kepada orang lain akan menghasilkan pesaing bagi usahanya. “Dalam hidup, manusia harus bisa berguna untuk manusia lainnya,” katanya.

Ia justru senang jika petani yang ia bina bisa berkibar sebagai pengusaha mandiri. Oleh karena itu, dalam kemitraan yang ia bangun, ia membebaskan petani mitra mengambil keputusan. “Jika nanti mereka menemukan pasar dan mampu menjual produknya sendiri, saya mempersilahkan mereka mandiri, menjalankan usahanya sendiri tanpa bermitra lagi,” ujarnya.

Ia berharap petani mitra yang telah mandiri itu bisa menjadi contoh dan diikuti petani lain. Harapannya ternyata tidak menemui ruang kosong. Mulai tetangga dan warga beda kampung terjun ke bisnis pembibitan tanaman dan menjualnya secara daring. Dulu di Kecamatan Salaman hanya ada sekitar 100 warga yang menjual bibit secara konvensional. Kini, ada sekitar 1.500 warga yang berjualan bibit secara daring seperti yang dilakukan Khoirul.

Bangkit

Sebelum menekuni bisnis budidaya bibit tanaman, Khoirul terlibat dalam bisnis multilevel marketing (MLM) pada 2003-2008. Lantaran jenuh, ia meninggalkan MLM dan bekerja di sebuah perusahaan otomotif. Di perusahaan itu ia hanya bertahan tiga bulan. Selanjutnya ia berbisnis bambu dan bawang hingga 2010.

Ia juga merintis budidaya sengon. Namun, erupsi besar Gunung Merapi pada 2010 menghancurkan 100.000 bibit sengon yang ia tanam. Ia mengalami rugi cukup besar.

Di tengah kondisi sulit, ia terinspirasi kisah sukses seseorang yang tidak lulus kuliah tetapi mampu menjalankan usaha otomotif dan properti. Khoirul kembali mersemangat menjalankan usaha.

Karena tak ada modal dan pengetahuan budidaya bibit tanaman, ia memulai langkah dengan menjadi pedagang bibit. Ia membeli bibit dari petani dan menjualnya secara daring. Saat itu, sebagian besar petani menjual bibit tanaman kepada tengkulak. “Modal saya telepon seluler. Saya melihat-lihat tanaman yang menarik untuk dijual, memotretnya, dan menawarkannya untuk dijual,” ujarnya.

Delapan bulan kemudian, cara berjualan bibit tanaman secara daring yang dilakukan Khoirul mulai menarik pembeli dari jauh. Ia berhasil menjual 10 bibit tanaman ke Medan, Sumatera Utara. Penjualan pertama itu membuka jalan untuk penjualan-penjualan berikutnya.

Ia semakin rajin memborong bibit tanaman yang dibudidayakan warga untuk dijual kembali. Ia dikenal selalu membeli bibit sesuai harga yang diinginkan petani dan menjualnya sesuai harga di pasaran di tempat domisili pembeli. Dengan cara itu, hubungan dengan petani dan pembeli menjadi baik.

Seiring banyaknya permintaan bibit, muncul pula pertanyaan dari konsumen seputar cara perawatan tanaman. Khoirul yang saat itu belum mengerti budidaya bibit tak bisa menjawab. “Kepada pembeli, saya mengaku hanya tenaga marketing penjualan tanaman. Namun, agar pembeli tidak kecewa, saya selalu berusaha mencari jawaban dengan cara bertanya kepada pakar, petani yang ahli, internet, dan komunitas,” ujarnya.

Dari proses mencari jawaban itu, Khoirul sekaligus belajar membudidayakan bibit aneka tanaman hingga mahir seperti sekarang. Ia juga mengembangkan teknik promosi tidak hanya lewat media sosial, tetapi juga situs. Dari situ, ia bisa menggenjot penjualan hingga 500-1.000 bibit tanaman per bulan. Selain itu, ia bisa menjual ranting dan biji tanaman ke pasar Malaysia.

Setelah tiga tahun menjadi pedagang, Khoirul memutuskan untuk mengembangkan budidaya tanaman sendiri. Awalnya, ia memanfaatkan halaman rumah, kemudian membangun kemitraan dengan petani lain. Hingga kini, ia masih terus membuat terobosan. Ia, misalnya, mulai mengembangkan budidaya padi di pipa paralon dengan sistem hidroganik. Ia juga mengembangkan bibit tanaman langka yang jarang dijual petani lain.

Kesuksesan Khoirul menarik minat banyak teman dan tetangganya untuk mencoba menekuni usaha sendiri. “Ketika ada teman bekerja di sektor dan mengeluh soal kesulitan ekonom lantaran gaji yang tidak mencukupi, saya selalu bilang bahwa solusi atas masalah mereka adalah keluar dari pekerjaan dan merintis usaha sendiri,” ujarnya.

Sumber: http://echogreen.id/m-khoirul-soleh-kawan-para-petani/

Cetak Sawah Baru Kurang Berdampak

Program cetak sawah di Kalimantan Tengah dinilai bukan solusi untuk mencapai kedaulatan pangan di Indonesia. Itu berkaca dari proyek lumbang pangan di sejumlah wilayah yang merugikan masyarakat.

Ketua Dewan Nasional Foodfirst Information and Action Network (FIAN) Indonesia mengatakan, sejumlah proyek cetak sawah tak berdampak maksimal, antara lain, Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) yang lalu berubah jadi Merauke Food Estate (MFE) di Papua dan Ketapang Food Estate (KFE) di Kalimantan Barat.

Menurut Laksmi, pengelolaan proyek lumbung pangan itu oleh korporasi tak punya ruang integrasi sosial budaya warga setempat pada ekonomi baru. Itu mengubah lanskap secara masif sehingga memicu masalah ekologis.

Di semua wilayah food estate itu, yang paling beruntung ialah makelar tanah dan makelar tenaga kerja. “Proyek itu banyak sekali masalah di lapangan. Di semua area food estate, yang paling beruntung adalah broker tanah maupun broker tenaga kerja,” ujarnya dalam diskusi daring, Rabu (1/7/2020), di Jakarta.

Kedaulatan pangan sulit tercapai karena Indonesia jadi bagian sistem pangan global. Karakteristik sistem ini, antara lain, berorientasi produksi, ada spesialisasi wilayah, dan korporatisasi pertanian.

Dalam mencapai kedaulatan pangan, perlu gerakan sosial dan perubahan kebijakan Negara yang melindungi dan memenuhi hak pangan dan gizi. Itu bertujuan mereformasi sistem pangan yang terbelenggu rezim pasar bebas.

Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Azwar Maas mengemukakan, lahan gambut ada yang diperuntukkan sebagai fungsi budidaya dan lindung. Sementara program cetak sawah dari pemerintah dilakukan di lahan dengan fungsi budidaya dan nongambut.

Menurut Azwar, yang meninjau langsung area cetak sawah di Kalimantan Tengah, rencana kegiatan tanaman pangan itu tidak hanya di bekas Proyek Lahan Gambut (PLG) 1995, tapi juga di bekas Proyek Pembukaan Persawahan Pangan Surut (P4S) pada 1974.

Karakteristik lahan itu kurang cocok ditanami tanaman produksi. Karena itu, perlu konsep perbaikan sistem tata air sesuai kemauan tanaman sehingga ada sirkulasi air. Perbaikan ini mampu  membilas sumber racun dari tanah.

Selain itu, perlu perbaikan media tanam berupa pengeluaran racun, pemberian pupuk, dan menjaga gangguan tanaman. “Kajian ini harus diikuti dan sejalan perkembangan tata air,” katanya. (MTK)

Sumber: http://echogreen.id/cetak-sawah-baru-kurang-berdampak/

Petani Kecil Menjaga Keragaman Hayati

Petani kecil berperan penting mengembangkan keanekaragaman hayati pangan di Indonesia. Mereka membudidayakan ribuan spesies tanaman dan kerabat liar tanaman secara gratis. Hal itu mengemuka dalam diskusi daring “Pangan, Hak-hak Petani dan Keanekaragaman Benih sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklim”, di Jakarta, Rabu (1/7/2020). Koordinator nasional perkumpulan Indonesia Berseru Tejo Wahyu Jatmiko mengatakan, menurut Badan Pusat Statistik, jumlah petani di Indonesia menurun hingga 10 juta orang tahun 2013-2019. Sebab, penghasilan petani tak menjanjikan. Karena itu, hak petani mesti dilindungi sesuai Perjanjian Internasional tentang Sumber Daya Genetik Tumbuhan untuk Pangan dan Pertanian. Petani berhak mendapat pengakuan atas kontribusi konservasi dan pengembangan berkelanjutan. (MTK)

Sumber: http://echogreen.id/petani-kecil-menjaga-keragaman-hayati/

Kegigihan Petani Muda

Dengan nilai pas-pasan, setelah lulus SMP, Rayndra diterima di jurusan pertanian SMKN Ngablak, Magelang, Jawa Tengah. Awal bersekolah di SMK bidang pertanian, Rayndra masih enggan. Saat praktik lapangan kerja di perusahaan yang mengelola 5.000 ayam petelur, Rayndra baru tersadar sulitnya mencari uang. Ia pun menyesal pernah menjadi anak nakal dan enggan belajar.

“Saya dikerjain pegawai di kandang pas PKL untuk bekerja keras. Di situlah saya merasakan mencari uang itu susah. Saya mikir, kenapa selama ini enggak jadi anak yang benar. Saya bertekad untuk berubah,” ujar Rayndra yang dihubungi dari Magelang, Rabu (1/7/2020).

Rayndra semakin giat belajar dan meraih sederet prestasi. Dia dipilih mewakili sekolah di ajang Lomba Kompetensi Siswa bagi siswa SMK dan masuk enam besar se-Jawa Tengah.

Lalu, timbul di benaknya untuk menjadi wirausaha di bidang petanian. Ia memulainya dengan berjualan sayur-mayur produksi gurunya di SMK. “Saya sering jualan di acara car free day, menenteng kotak berisi sayur. Teman-teman lain mejeng, saya pede saja jualan,” ujar Rayndra.

Ia memberanikan diri meminta modal kepada ayahnya sebesar Rp 2 juta. Saat lulus sekolah, dia sudah menjual sampai 1.000 ayam. “Tetapi bukannya untung, malah rugi. Saya baru tahu, harga ayam pedaging fluktuatif. Panen dua kali, rugi terus karena harga jual rendah sampai uang saya habis,” cerita Rayndra.

Kegagalan tak membuatnya menyerah. Tahun 2014, Rayndra mendapat beasiswa kuliah diploma empat di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang. Saat kuliah, Rayndra tetap berwirausaha dengan menjadi penjual hewan ternak milik tetangganya. Tanpa modal, ia menawarkan kambing dan ayam kepada pembeli.

Tiap hari pukul 02.00-05.00, Rayndra juga mencabuti bulu ayam, lalu mengantar ayam yang sudah bersih ke pasar pukul 06.00. Sejam kemudian, ia bersiap kuliah tanpa mengantuk.

Ternyata ada pejabat Kementrian Pertanian saat bermalam di kampus melihat kegiatan Rayndra. Kegigihannya menginspirasi kemunculan program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP). Tahun 2016, Rayndra mendapat modal Rp 15 juta dari PWMP. Bersama dua temannya, ia membuat bisnis dengan nama Cipta Visi Group. Wirausaha dimulai dengan membuka peternakan ayam jawa super, persilangan ayam petelur dan ayam Bangkok. Sisa keuntungan dikembangkan jadi peternakan kambing. Bisnis ditingkatkan dengan tambahan modal dari pinjaman bank Rp 50 juta.

Bisnis berkembang sehingga pada tahun 2018 Rayndra mendapat PWMP lagi Rp 30 juta. Mereka mampu menarik investor dengan konsep beternak kambing, domba, dan sapi yang minim modal serta pertanian terintegrasi dengan sentuhan inovasi dan tenknologi.

Selama tiga tahun, kini ada 700 kambing dan 20 sapi. Kandang tersebar di Desa Sidorejo, Desa Ngadirejo, dan Desa Pangarengan. Ada juga pencacah sampah plastik dengan kapasitas 5 ton per minggu.

Rayndra yakin tiap desa mempunyai potensi pertanian yang bisa menjadi sumber kehidupan bagi anak muda. Ia ingin mengubah gambaran petani yang kotor dan miskin menjadi petani gaul yang melek internet, teknologi dan inovasi, serta bermanfaat bagi masyarakat desa.

Kandang-kandang hewan ternak milik Rayndra dibuat sederhana dengan bahan kayu bekas atau bahan murah lainnya. Dia juga membuat pakan hewan dari pohon jagung yang tak dimanfaatkan dengan cara difermentasi. “Saya buat kandang sederhana supaya bisa ditiru. Kalau investasi awal sudah tinggi, nanti orang tak tertarik. Yang penting tujuan dan manfaatnya sama,” ucap Rayndra yang sedang kuliah S-2 di UPN Veteran Yogyakarta.

Penampilan Rayndra tidak kucel. Ia mendesain kaus kekinian berisi motivasi menjadi petani, seperti kaus bertukiskan “Yo Ngarit Yo Ngopi”. “Saya memakai kaus begini supaya enggak malu menjadi petani. Berat, lho, untuk percaya diri menjadi petani,” ujarnya.

Rayndra mencoba mengajak kaum muda dalam usaha pertanian yang identik dengan desa ini. Alasannya, omzet di sektor pertanian dan peternakan besar, bisa mencapai Rp 100 juta-Rp 250 juta per bulan, karena tak banyak orang melirik usaha ini. Dia mau membimbing dan memodali anak muda yang memiliki proposal bagus dalam bisnis pertanian. “Anak muda masih malu untuk berusaha di sektor pertanian dan peternakan. Kian jarang ada petani berusia kurang dari 25 tahun di desa-desa,” katanya.

Rayndra membuktikannya dengan menggagas badan usaha milik desa (BUMDes) di tempat tinggalnya di Desa Losari, Kecamatan Pakis, Magelang. Dia ditunjuk menjalankan BUMDes Losari dengan modal Rp 100 juta. Saat itu, ia menjadi direktur BUMDes termuda di Jawa Tengah.

Rayndra sering turun ke desa-desa untuk memberi pelatihan bertani dan berternak guna menambah pendapatan keluarga. “Saya melihat banyak potensi besar, produk lokal ataupun budaya, yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Oleh Ester Lince Napitupulu

Sumber: http://echogreen.id/kegigihan-petani-muda/

Gang Hijau, Penyelamat Pangan Warga Jakarta

Tidak ada kesan pengap saat melintasi Gang Nanas di RT 003 RW 007, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Jalan selebar kurang dari 2 meter itu juga tidak terlihat sempit. Ratusan tanaman yang dipajang pada kanan-kiri gang, seakan membuat pelintas hanya merasakan keasriannya.

Tanaman hias dan tanaman obat keluarga (toga), seperti lidah mertua (Sansevieria), daun ungu (Graptophyllum pictum), kelor (Moringa oleifera), atau gelombang cinta (Anthurium) hampir bisa ditemui sejak pintu masuk hingga sepanjang 500 meter gang. Tidak hanya itu, sejumlah tanaman jenis sayuran juga bercokol pada sejumlah rak hidroponik di sisi-sisi gang. “Sayuran-sayuran dari hidroponik ini kami bagikan secara gratis kepada warga,” kata Rafael Sugito, Ketua RT 003 RW 007 Kelurahan Srengseng.

Sebelumnya, sayuran-sayuran, seperti kangkung, bayam, atau sawi dijual kepada warga sekitar RT 003 dan RT lain dengan harga murah. Sebagai perbandingan, jika satu ikat besar kangkung di pasaran dijual Rp 20.000, kangkung hasil panen mereka hanya dijual Rp 10.000. “Hasil penjualan itu kami belikan bibit dan nutrisi, agar kami bisa menyemai lagi,” katanya.

Gang hijau di Kelurahan Srengseng pertama kali muncul berkat inisiatif dari Sugito. Pada 2016, ia mengikuti pelatihan hidroponik di Pluit, Jakarta Utara. Hasil dari pelatihan itu, langsung ia praktikkan di lapangan bulu tangkis kampungnya.

Warga yang melihat kreasi Sugito tertarik mengikuti jejaknya. Karena lahan yang tersedia sangat terbatas, warga kemudian membuat hidroponik bersama. Mereka juga membentuk Komunitas Petani Kota Gang Hijau Nanas.

Seiring berjalannya waktu, warga RT 003 tidak hanya menanam sayuran di hidroponik. Mereka juga menanam tanaman hias dan toga. Tidak mengerankan jika saat ini ratusan toga bercokol di sisi-sisi gang. “Pada 2017 ada bantuan tanaman dan pot dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Barat,” tambah Sugito.

Warga tak hanya mengandalkan bantuan. Mereka juga mengumpulkan uang secara swadaya untuk membeli pot dan tanaman yang lebih banyak. Tidak ada tanaman milik perorangan di Gang Hijau Nanas. Seluruhnya milik bersama.

Dari situ, para warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam merawat tanaman yang terletak di depan rumah masing-masing. “Setiap 17 Agustus kami adakan lomba. Bagi yang tanaman di depan rumahnya paling bagus dan terawat kami berikan hadiah. Daster untuk ibu-ibu, baju untuk bapak-bapak,” kata Sugito.

Jika keberadaan sayuran dan toga dapat dikonsumsi warga, tanaman hias bukan sekedar untuk menambah keasrian gang. Menurut Sugito, keberadaan tanaman hias juga cukup krusial untuk menyerap polutan. Seperti diketahui, setiap kemarau seperti sekarang ini, kualitas udara di Jakarta cenderung memburuk.

Sumber nutrisi

Pegiat gang hijau “Ampar Adhum” yang berlokasi di RT 007 RW 008 Kelurahan Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur, Fikri Husin, mengatakan, hingga kini memiliki 30 rak hidroponik. Setiap rak berisi 64 netpot atau pot berukuran kecil.

“Berarti kami punya sekitar 1.920 netpot di gang hijau kami,” katanya dalam webinar “Strategi Pengembangan Gang Hijau yang Asri dan Produktif di DKI Jakarta”.

Setiap rak minimal dapat memanen sayuran rata-rata 4 kilogram. Jika ada 30 rak, ada 120 kilogram sayuran dalam sekali panen. Jumlah tersebut tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan warga RT 007 RW 008 saja, tetapi juga warga di RT dan RW lainnya.

“Terutama saat bulan Ramadhan yang lalu. Warga banyak memasak dari sayuran yang dipanen dari sini,” ujar Fikri.

Menurut Fikri, keberadaan gang hijau di kampungnya memberikan kesempatan bagi warga kampung untuk menikmati sayuran yang bernutrisi dan higenis. Ia menilai, hal itu hanya bisa dinikmati warga kalangan ekonomi menengah ke atas selama ini.

“Kemarin ada supermarket juga yang tertarik membeli produk kami, tetapi masih kami diskusikan dengan warga. Jangan sampai mereka kekurangan,” katanya.

Tepis kesan kumuh

Sementara itu, hampir satu tahun lamanya Gang Hijau RT 008 RW 009 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, menanggalkan kesan kumuhnya. Sejak Agustus 2019, gang ini resmi dinamakan gang hijau setelah 500 tanaman dipajang di sisi-sisi gang.

Warga beruntung mendapatkan bantuan ratusan tanaman tersebut dari PLN melalui program PLN Peduli. Sejak saat itu pula, pengurus RT mewajibkan setiap warganya menyumbangkan satu tanaman per bulan.

“Sebelumnya gang di sini kumuh dan pengap. Namun, dengan banyaknya tanaman, kesan tersebut berubah total,” kata pengelola gang hijau di RT 008 RW 009 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Juriah.

Menurut Juriah, kebanyakan jenis tanaman di gang hijau Kota Bambu Selatan berjenis toga. Tanman tersebut di antaranya kelor, sirih (Piper betle), sambiloto (Andrographis paniculata), atau brotowali (Tinospora cordifolia).

Toga dipilih bukan tanpa alasan. Lokasi RT 008 RW 009 Kota Bambu Selatan terletak tepat di sebelah timur Rumah Sakit Darmais dan sisi selatan RS Harapan Kita. Di kampung tersebut juga banyak berdiri rumah kos untuk pasien yang berobat jalan di dua rumah sakit tersebut.

Keberadaan tanaman-tanaman jenis toga tersebut ternyata selama ini digemari oleh para pasien yang indekos di sana. Pengelola juga membebaskan para pasien untuk memetik tanaman yang mereka inginkan. “Pasien-pasien memang sering ambil tanaman dari sini. Kami bebaskan, barangkali bisa membantu pengobatan,” katanya.

Lokasi bertambah

Menurut Kepala Seksi Pasca Panen dan Pengelolaan Hasil Pertanian DKPKP Eti Rohaeti, berdasarkan data 2017, jumlah gang di DKI Jakarta sebanyak 2.258 lokasi. Sementara gang yang sudah dikembangkan menjadi gang hijau sebanyak 512 lokasi.

“Ini merupakan potensi yang luar biasa. Jika bisa diperluas lagi, Jakarta akan memiliki kampung yang hijau, asri dan produktif,” katanya.

Eti menambahkan, gang hijau tidak hanya memberikan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga sisi ekonomi dan sosial. Sebab, di gang hijau tersebut ada ketahanan pangan dan gotong royong para warga.

Selain itu, tentu saja gang hijau ikut menyegarkan pemandangan. Pada akhirnya lokasi ini menjadi oase kecil di tengah sesaknya kehidupan Ibu Kota.

Oleh Fajar Ramadhan

Sumber: http://echogreen.id/2155-2/

Berbasis Pertahanan Berdaulat Pangan

Secara meyakinkan, Presiden Jokowi mengajak kita menyejajarkan persoalan ketahanan pangan nasional dengan pertahanan nasional. Tani sama pentingnya dengan TNI. Bahkan, Presiden telah menunjuk Menteri Pertahanan untuk memimpin langsung pembangunan cetak sawah baru untuk program lumbung pangan nasional (food estate) di Kalimantan Tengah.

Menunjuk Menhan dalam pembangunan cetak sawah baru memang menarik sejumlah debat. Umumnya, pekerjaan teknik sipil dalam pembangunan diserahkan kepada Kementrian Pekerjaan Umum (PU). Sementara, teknis pembangunan petani dan pertanian diserahkan kepada Kementrian Pertanian. Apalagi, PU terbukti cepat dan berkualitas dalam membangun sejumlah infrastruktur. Sementara Kementan, meski terkesan belum menunjukkan sejumlah terobosan, secara birokrasi tentu lebih memahami secara sisi teknis, antropologis, dan sosiologis dunia pertanian.

Namun, ajakan Presiden terkait pembangunan food estate jangan sekedar mengentak sisi manajemen birokrasi. Menempatkan politik pangan nasional sebagai unit yang sama tingginya dengan pertahanan mesti diterjemahkan dalam beberapa aspek penting yang kita sebut Pertahanan Berdaulat Pangan. Pertama, proyek food estate sebelumnya yang dijalankan melalui Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Papua telah membuat pelepasan kawasan hutan yang mahaluas kepada sejumlah perusahaan atas nama proyek pangan. Namun, nilai penggundulan hutan seperti itu tidak sebanding jumlah investasi yang dilaporkan masuk. Proyek food estate Merauke gagal.

Berbeda dengan MIFEE yang didorong swasta, food estate di Kalimantan Tengah merupakan program ekstensifikasi lahan padi yang dimotori proyek pemerintah. Sementara, sebagian besar lahan proyek ini adalah eks proyek lahan gambut (PLG) di era Orde Baru. Hal ini mengkhawatirkan sebab pertanian padi di areal eks gambut telah diuji coba bertahun-tahun, hasilnya adalah pertanian pangan berbiaya mahal.

Tentu menjadi seperti simalakama, diberikan pengelolaan kepada swasta atau BUMN akan membutuhkan banyak insentif agar mereka berani masuk. Sementara jika dikelola rumah tangga petani, tingkat pendapatannya kecil karena produktivitas tanah rendah.

Dengan demikian, program lumbung pangan nasional yang tengah disiapkan belum mengarah pada model pertahanan pangan baru yang memberi suluh pada jalan kedaulatan pangan. Perlu mengajak kalangan akademisi dan praktisi untuk mengkaji kelaikan proyek ini.

Pertahanan pangan baru

Bagaimana sebaiknya kita memastikan model pertahanan pangan baru yang berdaulat? Telah kita ketahui, tentara pangan kita alias petani sebagian besar adalah kumpulan petani gurem, buruh tani, dan berada di Pulau Jawa yang subur. Almarhum Prof Sajogyo pernah mengusulkan agar kelompok ini didesain ke dalam badan usaha buruh tani. Denga dasar socio-agriculture semacam ini, dibutuhkan konsolidasi lahan, konsolidasi usaha, berbasis desa antar desa. Konsolidasi lahan dan konsolidasi usaha tani yang berisi petani gurem dan buruh tani ini tetap saja menghadapi kendala berupa lebih banyak tenaga produktif tersedia dibandingkan lahan. Rasio lahan per kapita tetap rendah.

Karena itu, konsolidasi usaha tani ini mesti bersamaan dengan menghidupkan perbenihan, pupuk, dan pestisida secara mandiri melalui sistem pertanian alami berkelanjutan juga usaha tani lain, yakni ternak dan perikanan darat. Sebenarnya, perkembangan revolusi teknologi 4.0 seharusnya lebih memudahkan pemahaman tentang konsolidasi lahan dan usaha tani yang berbasiskan data raksasa (big data) bagi perencana pembangunan pangan.

Terakhir langkah mengurangi kecilnya rasio lahan per petani adalah melakukan land reform dengan mengedepankan lahan-lahan lokal yang tersedia seperti eks HGU Perkebunan.

Pertahanan pangan memiliki musuh internal yang berbahaya, yakni alih fungsi lahan pertanian pangan. Bahkan, alih lahan subur, khususnya di Jawa dan Bali, mengkhawatirkan, rata-rata 56.000 hektar per tahun. Karena itu, mempertahankan lahan sawah yang ada dengan kebudayaan yang sudah terbentuk kemudian diberdayakan ke dalam konsolidasi lahan dan usaha jauh lebih strategis secara nasional dibandingkan program cetak sawah baru di lahan gambut. Larangan konversi lahan seperti amanat UU No 41/2009 harus ditegakkan.

Sejumlah uji coba yang dlakukan Konsorsium Pembaruan Agraria dengan menggunakan model Desa Maju Reforma Agraria yang serupa usulan itu memperlihatkan, konsolidasi lahan dan usaha yang direncanakan dalam skala desa telah membuat bukan saja pembenahan dari sisi produksi dan distribusi pangan melainkan relasi social masyarakat perdesaan, khususnya relasi jender.

Akhirnya, dengan model yang berbasiskan kenyataan petani gurem, buruh tani, desa, konsolidasi lahan dan usaha, serta land reform itulah, sistem pertahanan pangan semesta yang mesti diterapkan. Bahkan, pembangunan pertanian dan pangan dengan pola (fool estate) sebenarnya bukan konsep pertahanan pangan yang baik. Menyerahkan tulang punggung produksi pangan kepada perusahaan pangan membuat rapuh pertahanan pangan nasional.

Oleh Iwan Nurdin

Sumber: http://echogreen.id/basis-pertahanan-berdaulat-pangan/

Petani Muda Indonesia Hanya 1 Persen, Pakar IPB: Peluang Usaha Tani Besar

Dekan sekaligus dosen Fakultas Pertanian IPB University Sugiyanta mengatakan pentingnya membahas tren “green jobs” serta mendorong mahasiswa sebagai generasi muda untuk ikut bergelut dalam agrobisnis.

Menurutnya, angka petani muda di Indonesia hanya satu persen dibandingkan dengan generasi tua. Permasalahan sistem pangan pun kerap kali menjadi beban di pundak pemerintah.

“Tentu angka tersebut sangat mengecewakan. Kita pun dapat memandang hal tersebut sebagai masalah, demikian pula sebagai peluang. Peluang Anda ke depan menjadi pengusaha petani itu terbuka lebar,” paparnya merespon isu ketahanan pangan nasional yang dikhawatirkan terganggu di masa pandemi, seperti dilansir dari laman IPB University, Kamis (13/8/2020).

Ke depannya, diprediksi hanya segelintir generasi muda yang tertarik untuk menyelami usaha di dunia pertanian.

Kepemilikan sawah petani pun, kata dia, sebagian besar kurang dari satu hektar sehingga setinggi apapun produktivitasnya, dinilai tidak akan terlalu menguntungkan.

Petani Muda dan dukungan teknologi

Sugiyanta menerangkan, bantuan teknologi 4.0 untuk mempermudah petani dalam mengelola perkebunan dan persawahan menjadi nilai lebih untuk saat ini.

Lapangan kerja bagi generasi muda sendiri bisa diciptakan melalui Komunitas Estate Padi (KEP).

Anak muda dapat bekerja untuk mengorganisasikan dan mengelola padi secara efisien. Kerja sama dengan beberapa lembaga pun terbuka luas.

Direktur Kerja Sama dan Hubungan Alumni IPB University Syarifah Iis Aisyah menambahkan, mahasiswa juga perlu dibina untuk meningkatkan jumlah lulusan agronomi yang berwirausaha khususnya di bidang pertanian dan perikanan. Program kewirausahaan, kata dia, diperlukan untuk mengubah persepsi bahwa greenpreneur bukanlah pekerjaan yang sepele.

Bila dikelola secara profesional, keuntungannya pasti menjanjikan.

Fasilitas IPB University seperti Sabisa Farm pun dapat membantu mahasiswa mempelajari bagaimana memulai usaha di bidang agronomi.

Tren green jobs bagi generasi muda pun membawa Sandiaga Uno untuk membuka program Rumah Siap Kerja.

Selain untuk menciptakan lapangan kerja, program tersebut juga dibentuk dengan konsep lifetime companion untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta keterampilan yang menjadi nilai penting agar generasi muda dapat bersaing di lapangan.

Menurut Sandiaga, saat ini Rumah Siap Kerja telah melatih lebih dari 15.000 orang serta telah membuka lebih dari 10.000 lapangan kerja. “Bahwa kami ingin menjadi sahabat untuk pengembangan karier, pengembangan skill, dan link and match. Khususnya di dunia kerja termasuk di sektor pertanian dan perikanan terutama juga sektor pangan,” ungkapnya.

Oleh Ayunda Pininta Kasih

Sumber: http://echogreen.id/petani-muda-indonesia-hanya-1-persen-pakar-ipb-peluang-usaha-tani-besar/