Press Release: Improving Food Security: European Union and Penabulu Foundation Launch ECHO Green Project to Promote Inclusive Green Economy in Agriculture Sector

Unduh File (PDF, 135KB)

Siaran Pers: Tingkatkan Ketahanan Pangan: Uni Eropa dan Yayasan Penabulu Luncurkan Proyek ECHO Green untuk Mendorong Ekonomi Hijau yang Inklusif di Sektor Pertanian

Unduh File (PDF, 156KB)

Yayasan Penabulu – BBTN Gunung Leuser Tandatangani PKS

(Bogor, September 2020) Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan Direktur Eksekutif Yayasan Penabulu menandatangani Perjanjian Kerja Sama, pada Kamis (17/9), di Ruang Rapat Ditjen KSDAE – Ruang Komodo, Jl. Ir. H. Juanda No. 15 Bogor.

Penandatanganan dilakukan menindaklanjuti Nota Kesepahaman antara Direktur Jenderal KSDAE dengan Direktur Eksekutif Yayasan Penabulu Nomor : PKS.1/KSDAE/SET/KUM.3/5/2020, dan Nomor : PB/E/PKS.09/V/2020 tanggal 14 Mei 2020 Tentang Penguatan Fungsi Dukungan Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam di Provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Way Kambas.

Ruang lingkup perjanjian kerja sama penguatan fungsi ini meliputi dukungan perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati kawasan TNGL serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TNGL melalui peningkatan kapasitas mitra Balai Besar TNGL dan masyarakat dalam bentuk pelatihan, pendampingan, dan penyuluhan serta dukungan pemutakhiran data melalui kegiatan penyusunan database dan penyediaan peta kegiatan mitra.

Adi Nugroho, mewakili Yayasan Penabulu, mengatakan bahwa perjanjian kerja sama ini akan dilaksanakan di daerah penyangga kawasan TNGL yang berada di wilayah kerja BPTN Wilayah III Stabat, meliputi Desa Halaban, Bukit Mas, PIR ADB, Sekoci, Harapan Maju, Harapan Jaya, Mekar Makmur, Namu Sialang, Sei Serdang, Sei Musam, Kuta Gajah, Sampe Raya, Timbang Lawan, Lau Damak, Batu Jongjong dan Telagah.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser menyambut baik kerjasama ini dan berharap program dapat terlaksana baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Sumber : https://gunungleuser.or.id/yayasan-penabulu-bbtn-gunung-leuser-tandatangani-pks/

Penabulu Tandatangani Nota Kesepahaman Dengan Ditjen KSDAE- KLHK

Yayasan Penabulu dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menandatangani nota kesepahaman tentang Penguatan Fungsi Dukungan Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam di Provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Way Kambas. Penandatanganan ini berlangsung di ruang rapat Sekditjen KSDAE (14/05).

Agus Supriyanto, S.H, M.H selaku Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Teknik, Sekretariat Direktorat Jenderal Konsevasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menjelaskan bahwa “Nota kesepahaman ini akan melibatkan tiga UPT (Unit Pelaksanaan Teknis) lingkup Ditjen KSDAE, antara lain Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK)’.

“Nota Kesepahaman ini mencangkup 4 ruang lingkup, yaitu ; 1) Mendukung upaya Ditjen KSDAE dalam perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan; 2) Mendukung upaya Ditjen KSDAE dalam peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati secara berkelanjutan melalui kegiatan pelatihan, pendampingan dan penyuluhan; 3)Mendukung upaya pemberdayaan masyarakat sekitar Kawasan Suaka Alam di Provinsi Sumatera Selatan, Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Way Kambas; dan 4) Mendukung pemuktahiran data untuk dokumen pembelajaran dan diseminasi aksi konservasi melalui kegiatan penyusunan data base”, tambah Agus.

Dalam sambutannya, Ir. Tandya Tjahjana, M.Si  selaku Sekretariat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem menyambut baik kerjasama ini dan memberikan apresiasi kepada Yayasan Penabulu yang berkomitmen dalam mendukung program kerja KSDAE. “Saya merasa senang Yayasan Penabulu berkomitmen untuk mendukung program kerja KSDAE, dan saya berharap nota kesepahaman ini dapat segera diturunkan menjadi PKS (Perjanjian Kerja Sama) di tingkat UPT” ungkap Tandya.

Sebagai penutup, Direktur Eksekutif Yayasan Penabulu, Eko Komara mengatakan bahwa Penabulu siap mendukung program yang dijalankan Ditjen KSDAE dan akan segera berkomunikasi dengan ketiga UPT dimana wilayah nota kesepahaman ini. “Atas nama lembaga, kami berterima kasih kepada Bapak Kabag HKT-KSDAE beserta jajarannya yang telah  memfasilitasi dengan baik guna berlangsungnya penandatangan ini, dan kami berkomitmen akan selalu mendukung program kerja Ditjen KSDAE guna  terciptanya kelestarian sumber daya alam dan ekosistem secara berkelanjutan” tutup Eko. (hss)

Berlatih Uji Aksesibilitas Ruang Publik di Pasar Mandalika, Mataram, NTB

Semua orang pasti pernah pergi ke pasar tradisional, entah karena sengaja untuk berbelanja, atau juga hanya sekedar cuci mata. Namun pernahkan kita benar-benar serius memperhatikan bagaimana kondisi pasar tradisional yang sering kita kunjungi? Sudahkah pasar yang ada di sekitar kita memenuhi kebutuhan yang tidak hanya soal segala macam yang dijual di dalamnya namun juga aspek-aspek lain seperti keamanan dan kenyamanan kita?

Sebagai salah satu kegiatan dalam pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi, yang diselenggarakan oleh Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT) di Mataram tanggal 19-30 November 2018 lalu. Kami pengelola proyek NTB CSOs Program Management Capacity Strenghtening in GESI for the Infrastructure/Road Sector berkesempatan untuk mengunjungi Pasar Mandalika yang terletak di Jl.Sandubaya, Bertais, Kota Mataram. Kunjungan ini tidak hanya sekedar untuk mengimplementasikan materi uji cepat aksesibilitas pada infrastruktur publik, namun lebih dari itu, kunjungan ini juga sebagai bagian bagi kami untuk mengumpulkan data dan informasi yang akan memperkaya proses pengembangan modul yang sedang kami susun.

Dengan menggunakan metode observasi, kami menelusuri setiap bagian dari Pasar Mandalika untuk melihat sejauh mana pasar ini memenuhi standar aksesibilitas ruang publik yang ramah terhadap perempuan, anak, dan tentunya penyandang disabilitas.

Observasi kami memakan waktu nyaris tiga jam di siang itu. Kami menemukan, sebagai tempat yang menjadi pusat aktivitas perekonomian masyarakat di kota Mataram. Pasar Mandalika ternyata tidak cukup ramah bagi perempuan, anak-anak dan penyandang disabilitas. Ketiadaan RAMP dan lorong-lorong pasar yang cukup sempit tidak memungkinkan penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda untuk lewat. Di bagian lain, lorong-lorong antar los masih berlantai tanah dan cenderung licin, sebagai dampak luruhan sampah sayur yang membusuk. Ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabitas daksa tentunya sangat berisiko di lokasi yang sedemikian ini.

Kondisi toilet umum di Pasar Mandalika juga tidak lebih baik. Ketiadaan slot kunci toilet hanya salah satu hal yang membuat kami bergidik selain kesan kumuh dan kotor yang terlihat nyata dari toilet umum tersebut. Kalitas air dan kebersihan toilet umum ini jauh dari layak. Mirisnya, kami melihat salah satu sudut di lokasi toilet dipergunakan sebagai tempat ibadah bagi pengunjung pasar.

Satu-satunya kesan positif yang kami tangkap dari Pasar Mandalika ini adalah tersedianya signboard yang cukup besar dengan warna yang mencolok sehingga menghindarkan pengunjung tersesat di dalam pasar.

Penilaian Administrasi dan Substansi Review Proposal Hibah Kecil SGP Indonesia Siklus I, Jakarta

Panggilan Proposal Hibah Small Grants Program (SGP) di Indonesia telah diumumkan pada 15 September 2019 dan proposal yang telah diajukan, dilakukan penilaian melalui dua (2) tahap, yaitu: tahap pertama, penilaian administrasi yang dilakukan oleh Yayasan Penabulu sebagai Service Provider pada tanggal 4 Oktober 2019 untuk Taman Nasional Way Kambas dan 7 Oktober untuk Taman Nasional Gunung Leuser. Tahap kedua, penilaian substansi pada tanggal 15 – 16 Oktober 2019, berdasarkan hasil penilaian secara administrasi ada empat (4) proposal untuk Taman Nasional Way Kambas dan delapan (8) proposal untuk Taman Nasional Gunung Leuser yang dilakukan oleh Unit Koordinasi Program Regional Program Hibah Kecil atau Regional Programme Coordination Unit (RPCU) Small Grant Program dan Tim Kerja Nasional SGP Indonesia (National Working Team) yang berlangsung di Hotel Santika, Slipi, Jakarta.

Tim Kerja Nasional (NWT) dihadiri oleh sembilan (9) orang dan RPCU SGP ACB dihadiri oleh enam (6) orang dan proses penilaian dipimpin langsung oleh Ibu Nining Purnamaningtyas selaku Ketua National Working Team. Penilaian Proposal menggunakan instrumen yang disepakati bersama antara NWT dan ACB. Masing-masing tim kerja melakukan penilaian atas proposal yang lolos penilaian administrasi dari kesepakatan penilaian pertama untuk saling memahami porses dan cara penilaian yang akan dilakukan.

Proses penilaian berjalan dengan lama serta mempertimbangkan beberapa aspek baik teks maupun konteks serta kebutuhan taman nasional sebagai penerima manfaat dalam perlindungan AHP. Setelah melakukan pleno, disepakati untuk memanggil kembali beberapa proponen yang dianggap perlu mendapatkan klarifikasi atas proposal yang diusulkan, dan disepakati memanggil beberapa proponent untuk mengklarifikasi proposal yang diajukan pada tanggal 21 Oktober 2019 di Manggala Wanabhakti, KLHK, Jakarta.

Pada agenda klarifikasi proposal SGP indonesia Siklus 1 di Cafe Mangarove dihadiri oleh tujuh (7) orang dari Tim NWT (National Working Team) dan 3 orang dari Yayasan Penabulu sebagai Service Provider. Proses penilaian yang dipimpin langsung oleh Ibu Nining Purnamaningtyas selaku Ketua National Working Team pada tanggal 21 Oktober 2019 terdapat tujuh (7) proponen dari Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Gunung Leuser. Dalam klarifikasi tersebut NWT memberikan masukan dan rekomendasi untuk proponen  agar melakukan revisi atas proposal yang diusulkan tersebut.

Batas waktu revisi ditentukan tanggal 25 Oktober 2019 pukul 23.59 WIB, proponen yang melakukan revisi harus telah mengirimkan revisi dari masukan NWT ke Yayasan Penabulu sebagai Service Provider, dan mengkompilasi hasil revisi untuk segera dikirmkan ke NWT untuk dilakukan penilaian kembali.

Penilaian Proposal oleh NWT dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2019 di Hotel Ibis Slipi Jakarta,yang dihadiri oleh 7 orang dari Tim NWT (National Working Team) dan 5 orang dari Yayasan Penabulu sebagai Service Provider. Proses penilaian dipimpin langsung oleh Ibu Nining Purnamaningtyas selaku Ketua National Working Team dan berlangsung demokratis dengan mengedepankan tema yang disepakati, konteks wilayah, dan kebutuhan taman nasional. Hasil Penilaian dirangkum dan dikirimkan oleh NWT/KKH KLHK ke ACB, yang kemudian hasil penilaian direrata sebagai hasil akhir. Dukungan dari National Steering Commitee (NSC) menjadi tahapan akhir penilaian proposal SGP Indonesia Siklus 1.

Coaching Clinic SGP Indonesia, Bandar Lampung

Coaching Clinic SGP Indonesia untuk Taman Nasional Way Kambas dilaksanakan pada tanggal 29 September – 1 Oktober 2019 di Hotel Batiqa, Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Coaching Clinic dibuka oleh Bapak Subakir Sh. MH Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas dan diikuti oleh sebelas (11) orang dari enam (6) proponen atau organisasi masyarakat sipil yang telah mengajukan diri dengan mengirimkan Letter of Interest, Concept Proposal, dan Registrasi mengikuti Coaching Clinic Penggunaan Grant Management and Monitoring System (GraMMS).

Fasilitator selama proses Coaching Clinic adalah Saudari Dinnie Indirawati dari Penabulu Foundation sebagai Service Provider dan Geniuqe Damarahan Manahan (ASEAN Centre for Biodiversity – Philipine).

Merangkai Capaian Konservasi di Wallacea

Merangkai Capaian Konservasi di Wallacea

Makassar, 01-04 Oktober 2019

Program kemitraan Wallacea dimulai sejak 2015, berbagai inisiatif dan model pengelolaan sumber daya alam berhasil diperkuat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Program ini mampu mengarusutamakan pengelolaan keanekaragaman hayati ke dalam kebijakan diberbagai tingkat maupun kehidupan masyarakat sehari-hari. Program ini telah berjalan selaras dengan tujuan strategisnya yaitu untuk memperkuat upaya konservasi jenis terancam punah, perlindungan tapak, pengelolaan sumber daya alam darat dan laut berbasis masyarakat, hingga pelibatan sektor swasta dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Program kemitraan Wallacea mampu berkontribusi menurunkan ancaman bagi 19 dari 22 jenis prioritas darat di wallacea, diantaranya adalah kakatua Maluku, Nuri Talaud, dan Kura-kura hutan Sulawesi Selatan. Dan menurunkan ancaman bagi tidak kurang 207 jenis prioritas laut di Wallacea, diantaranya adalah dugong, penyu dan beragam jenis karang.

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 01-04 Oktober 2019 di Hotel Four Point, Makassar. Kegiatan ini diselenggarakan olek Burung Indonesia sebagai RIT dan Penabulu sebagai mitra untuk peningkatan kapasitas kelembagaan. Kegiatan ini dihadiri oleh 47mitra local, 5 mitra Nasional, 6 lembaga Pemerintah Pusat, 47 lembaga Pemerintah daerah, 11 lembaga dari LSM/akademis/Swasta/media.

Kegiatan untuk hari pertama sampai dengan hari ketiga adalah pemaparan hasil capaian program dari perwakilan mitra CEPF. Strategi program yang dilakukan oleh mitra CEPF untuk menciptakan model aksi konservasi local yang efektif, telah berhasil menemukan jalan tengah bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan sehari-hari sekaligus tuntutan keberlanjutan ekosistem. Praktik-praktik konservasi terbaik yang dilakukan oleh mitra program diantara adalah:

  1. Penerapan kembali aturan adat, Muro Lewa yang berarti larangan laut, di Desa Lamatokan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur dimana Teluk Hadakewa berada. Dan saat ini ikan-ikan sudah kembali sehingga masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh mencari ikan ke tengah laut, dan penghasilan masyarakatpun meningkat.
  2. Sasi Lompa adalah salah satu kearifan local di Haruku yang dijalankan oleh Kewang. Masyarakat dilarang untuk mengambil ikan lompa(Trisina Baelama), sejenis ikan sarden hingga ditetapkannya hari melakukan ritual Buka Sasi. Saat ini masyarakat tidak pernah merasakan kehabisan lauk pauk. Selain itu penerapan Sasi juga telah berhasil mengembalikan fungsi tempat bertelurnya Gosong Maluku, dan masyarakat sudah tidak mengkonsumsi telu Gosong Maluku.
  3. Pelestarian hutan melalui penanaman kopi di deretan bukit dan gunung Lompobatang, desa Pattaneteang, Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kawasan ini dahulunya gundul, tidak ada pepohonan besar karena kawasan hutan dan areal perkebunan masyarakat dulunya ditanami jagung sehingga lahan menjadi terbuka dan lawan longsor. Setelah masyarakat kembali menanam kopi dan tanaman kopi terus berkembang pesat, hal ini menjadi penyebab mengapa masyarakat melindungi hutan yang ada disekitar lahan mereka dengan menanam suren, sengon, sadak, dan kayu lutu. Saat ini kebun-kebun kopi masyarakat menjadi habitat satwa endemic seperti tarsius dan burung poce atau sikatan lompubatang.

 

Dan masih banyak lagi yang telah dilakukan oleh mitra CEPF untuk pelestarian keanekaragaman hayati di Wallacea. Strategi yang dilakukan juga berbeda, sesuai dengan karakter wilayah dari masing-masing organisasi mitra dimana mereka bekerja.

 

Kegiatan ini ditutup dengan field visit yang diikuti oleh perwakilan 47 mitra CEPF, staf Burung Indonesia, perwakilan CEPF – Daniel Rothberg. Field visit dilakukan ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung-Maros, Makassar, Sulawesi Selatan.

 

 

 

 

Coaching Clinic SGP Indonesia, Medan, Sumatera Utara

Coaching Clinic SGP Indonesia Siklus 1 dilaksanakan di Hotel Hermes Palace & Resort, Medan, Sumatera Utara. Peserta Coaching Clinic adalah Organisasi Masyarakat Sipil yang mengajukan diri melalui Letter of Interest, mengirimkan Concept Proposal, dan mengirimkan registrasi kepada Penabulu sebagai Service Provider. OMS yang telah mengirimkan tiga (prasyarat) tersebut disebut sebagi proponent atau calon grantee SGP Indonesia. Coaching Clinic dibuka oleh Bapak Rinaldo dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser mewakili Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser yang sedang mengikuti agenda pertemuan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

Coaching Clinic SGP Indonesia untuk Taman Nasional Gunung Leuser dihadiri sembilan (9) proponen dari sepuluh (10) proponen. Hal ini disebabkan satu (1) proponen telah mengikuti Coaching Clinic di Bandar Lampung, Lampung.

Pertemuan Persiapan Panggilan Hibah Kecil SGP Indonesia Siklus 1, Jakarta

Jakarta 10 – 12 September 2019. Pertemuan Persiapan Peluncuran Panggilan Hibah Kecil SGP Indonesia Siklus 1, bertempat di Rumah Kemuning Yayasan Penabulu, Pasar Minggu Jakarta Selatan. Pertemuan persiapan tersebut berlangsung antara Penabulu dengan ACB dengan pokok pembahasan terkait perkembangan persiapan Program Hibah Kecil Siklus 1 yang akan luncurkan tanggal 16 September 2019. Pertemuan ini dihadiri oleh ACB (4 orang) dan Guenther Meyer perwakilan dari GITEC – KFW, dan Tim Kerja SGP Indonesia.

Pertemuan membahas Risalah dan kesepakatan yang dicapai selama Rapat Koordinasi Bersama yang diadakan pada tanggal 11-12 Juli 2019, kemajuan yang dicapai hingga saat ini, dan dokumen yang tertunda serta masalah yang perlu ditangani.

Dalam dokumen rencana pengelolaan kolaboratif Program Hibah Kecil SGP Indonesia baik di Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Way Kambas, Penabulu sebagai Service Provider, memastikan marka dasar (baseline data) untuk mengukur input dan output yang berasal dari kegiatan yang diimplementasi oleh penerima hibah serta memastikan keluaran dari hasil aktifitas yang dilakukan oleh penerima hibah.

Meninjau kembali kesepakatan pada Program Management Manual (PMM) tentang desain kesepakataan bersama dalam program Hibah Kecil Indonesia untuk kedepannya dalam memberikan informasi kepada penerima hibah dan jumlah hibah yang akan diterima oleh mereka. Dan Penabulu sebagai Service Provider akan mengadakan Coaching Clinic di Lampung dan Medan untuk membantu para calon penerima hibah dalam tata cara mengisi proposal secara online melalui aplikasi GraMMS.

Disela pertemuan,  ACB dengan Penabulu melakukan pertemuan koordinasi di Ruang Rapat KKH – DG KSDAE, KLHK untuk mematangkan persiapan peluncuran Program Hibah Kecil – SGP Indonesia Siklus 1.

Ibu Nining Ngudi Purnamaningtyas (Chair of Sub Directorat of Implementing of International Convenant Treaty) berharap dapat memulai Siklus 1 lebih awal karena agenda akhir tahun dan antisipasi restrukturisasi paska kabinet pemerintahan Republik Indonesia yang baru. Kesepakatan bersama diambil dengan memperpendek waktu SGP Indonesia Siklus 1 sebelum perubahan kabinet berlangsung pada setelah Oktober 2019.